Usia 55 Tahun, Veteran Silicon Valley Tinggalkan Pekerjaan dan Bangun Startup Chip AI
TAIWAN — Memulai bisnis di usia 55 tahun mungkin dianggap terlambat oleh sebagian orang. Namun, Stephen Huang justru mengambil keputusan berbeda. Setelah puluhan tahun berkarier di sejumlah perusahaan teknologi besar di Silicon Valley, ia memilih meninggalkan pekerjaan dan membangun perusahaan chip berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Huang memiliki pengalaman panjang di industri teknologi. Ia pernah terlibat dalam pengembangan GPU saat bekerja di MediaTek, ikut mengembangkan teknologi Face ID ketika berada di Apple, serta menjadi bagian dari tim chip AI Amazon.
Perjalanan karier tersebut kemudian membawanya pada keputusan untuk menjadi pengusaha. Salah satu momentum yang membuat Huang semakin yakin adalah pesatnya perkembangan ChatGPT sejak 2023.
Menurut Huang, perkembangan AI menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap chip khusus untuk menjalankan teknologi tersebut akan semakin besar. Dari situlah ia kemudian mendirikan Tranxform AI, sebuah startup yang berbasis di Taiwan.
Perusahaan tersebut berfokus pada pengembangan prosesor hemat energi yang dirancang untuk menjalankan berbagai model AI.
Saat ini, Tranxform AI telah memiliki sekitar 40 karyawan yang bekerja untuk mengembangkan chip pertama perusahaan. Huang menargetkan produk perdana mereka dapat selesai pada tahun berikutnya.
Pengalaman Puluhan Tahun Jadi Modal
Memulai perusahaan teknologi pada usia 55 tahun tidak dianggap Huang sebagai sebuah hambatan. Justru, pengalaman panjang di industri semikonduktor menjadi salah satu modal penting dalam membangun bisnis tersebut.
Huang menilai pengembangan System-on-Chip (SoC) membutuhkan pengalaman yang matang. Perancang harus mampu mempertimbangkan hubungan antara perangkat keras dan perangkat lunak agar dapat menghasilkan sistem yang efisien.
Ia juga mengambil contoh Morris Chang, pendiri Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), yang memulai perusahaan tersebut ketika berada di usia 50-an.
Menurut Huang, pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun dapat menjadi keuntungan ketika seseorang harus menghadapi persoalan kompleks dalam pengembangan teknologi.
Tinggalkan Kenyamanan di Silicon Valley
Keputusan Huang untuk membangun perusahaan sendiri tentu bukan tanpa risiko. Setelah bertahun-tahun bekerja di perusahaan teknologi besar, ia harus meninggalkan kehidupan yang relatif nyaman di Amerika Serikat dan menghabiskan lebih banyak waktu di Taiwan.
Membangun startup dari nol juga membuatnya harus mencari mitra, meyakinkan investor, sekaligus mengembangkan tim dan produk.
Pada awalnya, keputusan tersebut disebut cukup sulit diterima keluarganya. Namun, seiring perkembangan Tranxform AI, keluarga Huang mulai memberikan dukungan terhadap langkah yang diambilnya.
Huang juga menyebut kedua putranya telah dewasa dan mandiri. Kondisi tersebut membuatnya memiliki lebih banyak kesempatan untuk mencurahkan waktu dan energi dalam membangun perusahaan.
Memilih Taiwan untuk Mengembangkan Startup
Huang memilih Taiwan sebagai lokasi pengembangan Tranxform AI, salah satunya karena persaingan mendapatkan talenta teknologi di Silicon Valley semakin ketat.
Perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google, Nvidia, Meta, dan Apple terus membutuhkan tenaga ahli untuk mengembangkan teknologi AI. Kondisi tersebut membuat startup lebih sulit mempertahankan tenaga teknis berpengalaman.
Tranxform AI kemudian dibangun di Hsinchu, salah satu pusat industri semikonduktor Taiwan. Huang berharap lokasi tersebut dapat membantu perusahaan mendapatkan serta mempertahankan tim teknis yang solid.
Salah satu orang yang bergabung dengannya adalah Way-Shing Lee, teman kuliahnya yang kemudian dipercaya menjadi kepala teknologi Tranxform AI setelah sebelumnya pensiun dari Qualcomm.
Melihat Peluang Besar di Industri AI
Tranxform AI saat ini masih berada dalam tahap awal pengembangan. Perusahaan juga tengah mempersiapkan pendanaan berikutnya untuk mendukung pengembangan produknya.
Huang melihat peluang industri AI masih sangat terbuka. Menurutnya, perkembangan teknologi AI akan membutuhkan perangkat keras yang semakin hemat energi, tetapi tetap mampu menjalankan tugas dengan cepat dan kompleks.
Data yang dikutip dari PitchBook menunjukkan pendanaan modal ventura untuk startup chip AI dan machine learning meningkat lebih dari 70 persen pada 2025 menjadi sekitar 16,2 miliar dolar AS, dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, jumlah kesepakatan investasi justru turun dari 266 menjadi 232. Kondisi tersebut menunjukkan investor semakin selektif dalam memilih perusahaan yang dianggap memiliki peluang untuk berkembang.
Bagi Huang, perjalanan dari pekerja teknologi hingga menjadi pendiri startup di usia 55 tahun menunjukkan bahwa pengalaman panjang dapat menjadi modal penting ketika seseorang memasuki babak baru dalam kariernya.
Sumber: KompasTekno, dirangkum dari Business Insider


Tidak ada komentar:
Posting Komentar