Sembilan Hari Terjebak dalam Terowongan Gelap, Pria Nepal Ceritakan Perjuangan Bertahan Hidup

 

NEPAL — Kisah mengharukan datang dari Nepal. Seorang pria berusia 30 tahun, Sanjay Sah, berhasil bertahan hidup setelah terjebak selama sembilan hari di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air yang gelap dan dipenuhi lumpur serta puing-puing akibat banjir besar.

Sah merupakan mandor mekanik di Pembangkit Listrik Tenaga Air Upper Trishuli 3A. Ia terjebak setelah runtuhnya gletser di kawasan Himalaya pada akhir Agustus memicu banjir dahsyat yang menerjang lembah di Nepal.

Selama berada di dalam terowongan, Sah tidak memiliki makanan. Untuk bertahan hidup, ia meminum air banjir dan rembesan air dari bebatuan di sekitarnya.

Kondisi di dalam terowongan sangat gelap. Sah bahkan lebih sering memejamkan mata karena khawatir terluka akibat puing-puing yang berserakan. Pecahan lampu dan benda-benda lain yang terbawa banjir membuatnya beberapa kali terluka, termasuk pada bagian kaki.

Banjir juga mengubah kondisi terowongan secara drastis. Jalur yang sebelumnya sangat ia kenal berubah menjadi tumpukan lumpur, lubang, puing dan peralatan yang berserakan.

Bertahan dengan Doa

Di tengah rasa takut dan putus asa, Sah memilih untuk terus berdoa. Sebagai penganut Krishna, ia berulang kali melantunkan Maha Mantra, sebuah doa dalam tradisi Hindu.

Menurut Sah, doa tersebut membuat dirinya merasa lebih tenang dan membantunya mempertahankan harapan untuk tetap hidup.

Ia juga terus memikirkan keluarganya, termasuk istri dan putrinya yang masih berusia dua tahun. Ingatan tentang keluarganya menjadi salah satu sumber kekuatan selama terjebak di dalam terowongan.

Sah mengaku kehilangan jejak waktu. Ia bahkan sempat mengira dirinya baru berada di dalam terowongan selama dua atau tiga hari. Namun, setelah berhasil diselamatkan, ia baru mengetahui bahwa dirinya telah bertahan selama sekitar sembilan hari.

Memilih untuk Tidak Banyak Bergerak

Pada awalnya, Sah sempat mencoba bergerak mencari jalan keluar. Namun, ia menyadari bahwa pergerakan justru dapat membuatnya terjebak di lokasi yang lebih berbahaya.

Karena itu, ia memutuskan untuk tetap berada di tempat yang menurutnya paling aman.

Keputusan tersebut ternyata sangat penting. Tim penyelamat akhirnya menemukan Sah di lokasi tersebut setelah melakukan pencarian dan penggalian selama berhari-hari.

Beberapa jam sebelum diselamatkan, Sah mulai mendengar suara dari luar. Ia mendengar suara alat berat, tangga dan aktivitas para penyelamat yang sedang berusaha menembus terowongan.

Suara-suara tersebut membuatnya yakin bahwa tim penyelamat semakin dekat.

Penyelamatan yang Mengharukan

Setelah melalui operasi penyelamatan yang sangat sulit, Sah akhirnya ditemukan dan dikeluarkan dari terowongan dalam kondisi lemah.

Ia bukan satu-satunya pekerja yang berhasil selamat. Rekannya, Kabir Maharjan, yang berusia 45 tahun, juga ditemukan hidup meski mengalami luka yang lebih serius.

Keduanya sebelumnya berusaha mencari tempat yang lebih tinggi ketika air mulai memasuki fasilitas pembangkit. Dalam kekacauan tersebut, mereka akhirnya terpisah.

Bencana banjir yang dipicu runtuhnya gletser tersebut menjadi salah satu bencana paling mematikan di kawasan tersebut. Ribuan orang dilaporkan meninggal dunia atau masih dinyatakan hilang di Nepal dan wilayah Tibet, China.

Bagi Sah, keselamatannya menjadi sebuah keajaiban. Ia mengatakan bagian paling menyedihkan dari bencana tersebut adalah mengetahui bahwa beberapa orang yang sebelumnya ia minta untuk menyelamatkan diri ternyata tetap tersapu banjir.

Meski telah melewati pengalaman yang sangat berat, Sah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar kehilangan harapan. Baginya, bertahan, tetap tenang dan tidak menyerah menjadi kunci untuk melewati sembilan hari penuh dalam kegelapan.

Sumber: Reuters
Artikel: “Trapped nine days in a dark tunnel, Nepali man tells his survival story”, 11 September 2026.
Baca artikel asli Reuters

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *